We Laugh at Insult?

Thought & Opinion 3 Comments »

Tadi malam nih aku nonton acara lepas malam di tipi. Jujur aja ya, sekarang-sekarang ini aku benci banget sama hampir semua acara tv, terutama yang lokal. kerana aku ngerasa nggak dapet apa-apa dari sana. Terhibur nggak, Dapat Informasi juga nggak. Tapi apa mau dikata, dulu aku pernah baca bukunya Robert T Kiyosaki (Aku baca ini karena aku suka baca buku, bukannya aku penganut “sekte” MLM tertentu loh ya) yang bilang bahwa “tv adalah sumber informasi bagi orang bodoh dan orang miskin”. Kayaknya bener juga nih. Karena sahabat terdekat kita yang selalu disamping kita saat dibutuhkan di rumah adalah tv. huh? menyebalkan, tapi mau gimana lagi. Apa mau dibuang tvnya? wo…

Eh balik lagi ya ke lepas malam. Kebetulan waktu pas aku nonton temanya tentang pelestarian lingkungan. Ada beberapa penerima penghargaan Kalpataru yang hadir.. tapi bukan itu yang menarik perhatianku tadi malam.. cuma seceplos joke saja dari artis tamu Sarah Azhari yang aku nggak ngeh! Waktu itu dia ditanya Kalo para pengusaha penjarah perusak lingkungan itu ditangkap enaknya dihukum apa? Dan seperti biasa artis-artis macem gini menjawab dengan segala kejeniusan-nya “Mungkin dihukum jadi tukang sampah aja ya suruh bersihin jalan..” Dan begitulah acara pun mengalir kembali. Mungkin terdengar biasa atau lucu kalau didengar… tapi lain halnya kalau kau ADALAH seorang tukang sampah! Apa salahku hingga keadaanku dianggap sebagai hukuman? Apa dosaku hingga para perusak lingkungan yang merugikan orang banyak harus itu dikutuk menjadi aku. Apakah aku ini semacam kutukan? Aku cuma berusaha sekuat tenagaku ini, sekuat otakku yang miskin pendidikan ini untuk menjaga perutku dan perut istri dan anak-anakku tetap terisi nasi… itu saja! Aku tidak merugikan orang lain, apalagi merusak lingkungan!

Lebih jauh lagi aku berpikir tentang lelucon-lelucon yang menjadi tren di masyarakat ini. Mengapa semuanya mencela keadaan orang lain? Apa tidak ada sumber humor yang lain? Contoh? Lihat saja para pembawa acara dan tim pencela API-nya TPI. Sesuai namanya mereka saling mencela satu sama lain. dan para penonton tertawa terbahak-bahak… aku bener-bener nggak ngerti keadaan ini. Celaan dan ejekan mereka begitu dalam dan berulang-ulang. Komeng, Omas, Ulfa, Narji dan sebagainya. Ya ampun mereka saling mencela kondisi fisik sampai habis tak bersisa, mulai dari muka, mulut, kulit, gigi, hidung, keturunan dan banyak lagi. Mungkin menurut pendapatku Komeng lebih tepat disebut sebagai “pencari dan pencela keburukan orang” daripada seorang pelawak.

Masih soal acara API itu, salah satu celaan mereka seperti ini kira-kira ” Ya pantes aja dia begitu dia ini kan lulusan SLB!” Lucu? tentu saja, penonton pada tertawa.. tapi sekali lagi lain halnya kalau kau pernah sekolah di SLB atau anak atau saudaramu yang di SLB. Tahu apa mereka tentang anak-anak SLB? Tentang perjuangan mereka untuk menjalani hidup? Tentang perjuangan keluarga mereka untuk memasukkan anak-anak terbelakang ini ke masyarakat? Bayangkan betapa sedih hati mereka ini, toh mereka tidak memilih untuk terlahir sebagai seorang tuna grahita.

Kenapa ya model lelcucon ini yang populer di masyarakat? mungkin banyak beribu alasan dan hipotesis sosial yang bisa dikemukakan. Aku bukan sosiolog atau psikolog (dan tidak pernah memerankan mereka di televisi :-)), namun aku rasa cukup orang biasa saja yang dibutuhkan untuk meyadari bahwa “something is wrong here..”Namun lepas dari ini sebenarnya banyak hal yang bisa membuat kita tertawa tanpa menghina kekurangan orang lain, untuk tertawa tanpa menyakiti. Begitu banyak hal didunia ini yang mampu menyentuh hati kita untuk tersenyum dan tertawa. Ah.


Artificial Beauty

Personal 11 Comments »

Syuri

Coba teman-teman perhatikan gambar ini (klik untuk memperbesar), apa yang kalian lihat? Seorang wanita cantik. Hmm almost! Beberapa hari yang lalu ada temenku datang ke rumah. Entah darimana dia mendapatkannya tapi gambar-gambar yang dibawanya begitu mempesona, mengherankan sekaligus cukup menakutkan kalau dilihat dari sisi yang berbeda. Langsung saja ya kita perkenalkan gambar diatas adalah gambar Syuri. Siapa dia? Well yang jelas dia akan menuruti segala keinginan anda dan anda bisa mendapatkannya dengan harga sekitar $500 ribu yen. Ya benar “mendapatkan”, memiliki dirinya sepenuhnya untuk selamanya.
Menagapa begitu? Karena Syuri adalah salah satu dari sekian banyak doll yang ada di katalog yang dibawa oleh teman saya tadi. Syuri bersama dengan doll-doll yang lain diproduksi oleh perusahaan Orient di jepang. Teman-teman pasti sudah menduga dong, kalau doll ini bukan untuk sekedar dipajang. Ada alasan yang khusus mengapa ia dibuat begitu mirip dengan manusia, dengan skala 1:1 dan juga dibuat begitu cantik… ya benar, untuk “itu“.

Beberapa tahun yang lalu ketika aku membaca manga Great Teacher Onizuka, aku tertawa terbahak-bahak melihat doll miliknya si guru geblek Onizuka. Bagaimana tidak doll itu terbuat dari plastik pompa sama seperti mainan bola balon tiup yang sering dijajakan penjual keliling disini. Dengan bentuk muka yang jauh dari muka manusia sungguhan, apalagi kriteria cantik. jauh deh! Dan kayaknya fenomena doll itu cukup berhenti sampai disitu saja.

Tapi apa yang terjadi sekarang ketika teknologi ikut-ikutan berperan? Astaga! Doll-doll itu semakin mirip dengan manusia. Mulai dari Bentuk, warna, tekstur sampai mata dan rambut semuanya mirip sekali dengan aslinya. Coba deh lihat seluruh tubuhnya secara utuh (sebenarnya mau kuposting, tapi kayaknya nggak pantes ya :-P) begitu sempurna. yah kecuali satu kenyataan terpenting bahwa dia tidak bernyawa.

Mungkin sekilas kita bisa berpikir “ah biarlah, itu kan bagi mereka, bagi para freak diluar sana. Nggak ada hubungannya denganku”. Ehm..tapi dari beberapa doll yang aku amati ada beberapa yang sangat mirip dengan artis jepang”. Dan bagaimana bila Orient memperbolehkan kita untuk memesan doll dengan ciri yang kita tentukan? Dan Orient somehow bisa memasarkan produknya di sini? Nah lo, Bummer!! Aku membayangkan ada iklan TV yang berbunyi begini “Cinta anda ditolak? Tidak masalah! cukup bawa fotonya kepada kami, dan kami akan antarkan dia dalam beberapa hari dan Anda bisa memperlakukan dia sesuka anda. Pesanlah sekarang juga!!” OMG!

Nungguin kloning? kelamaan..! pesen aja ini!


Posting Hari Minggu Dari Hp

Mobile Blog No Comments »

Halo blog, ini hari minggu, aku bangun siang banget dan sekarang sekarang lagi tiduran sambil nonton acara masquarade di tipi (salut deh buat orang jepang, kreatifnya gak ada matinya). Lihat hp tadi eh tumben di kamarku sinyal gprsnya kok lumayan kuat, jadi ya coba nge-blog ah.

Kemarin aku ke kost Amed, balikin film devilman, bagus lho filmnya. Dah lama gak ke sana, mayan rame juga sih. Kemarin ada Dany Bra, Kunce, Lek Su, Vivi dan juga Lika yang lagi minta diajarin TA, tapi gak ada yg bisa, mungkin sudah saatnya Encup -the Einstein of ONI- turun tangan. Kata Amed kalau manusia biasa sudah tak sanggup, serahkan saja ke Encup…
Sudah dulu ya. eh acara Masquarade nya dah selesai ik, tidur lagi ah…


New Domain!

Personal No Comments »

Kemarin aku beli domain ini dan resmilah sejak 14 juli 2005 bahwa budiyono.net ini milikku, coba di whois deh hehehe.. Awalnya aku pikir domain namaku ini, yang mana adalah nama pasaran alias nama standar di indonesia (masih ingat pelajaran SD dulu? ini budi-ini ibu budi - ini wati kakak budi dll..) bakalan susah nyarinya, tapi ternyata di dunia maya, nama ini belum laku lho, masih kosong alias bisa dipesan. Bahkan domain dot com nya pun juga masih free.
Kenapa dot net? Karena kalau dot com kesannya komersil katanya. Ketika aku beli domain dot com buat elektro pun ada yang protes, kenapa nggak net atau org? Memang sih kebanyakan domain dot com itu dah..em..gimana ya standar, komersil dan..ehm.. “tercemar” (semua situs xxx kan kebanyakan dot com semua). Tapi apa iya begitu? Menurutku itu sih cuma anggapan bersama saja para crusaders IT, para pejuang dunia maya. Malah kalau menurutku nama dot com lebih nyantol dan lebih mengena di kepala orang-orang awam.

Kenapa pindah? Sebenarnya si di tempat yang dulu masih enjoy juga (budiyono.elektro-kita.com) tapi yang namanya situs pribadi kayaknya kok nggak bebas ngomongnya gitu ya kalau masih berada di subdomain. Ntar kalau aku posting hal yang agak “aneh”, domain atasnya yang dituduh. “Web site siapa sih ini kurang ajar banget? ..oh milinya elektro tho..”. Waduh ! Btw, kalau ditung-itung lagi ini berarti blog-ku yang keempat nih ya, busyet dah, bukannya rajin nge-blog malahan rajin pindah-pindah. Tapi yang pindahan kali ini sih cuma eksport import database doang. beres.

Tapi seperti kebanyakan situ pribadi yang lain, halaman utamanya malah belum dibikin.. nggak papa lah, blog-nya aja dulu jalan. ja ne..!


Blue pill or Red pill ?

Thought & Opinion No Comments »

Malam minggu, biasalah ke Gramed nyari-nyari manga atau bacaan untuk weekend. Nggak ada gawean, maklum jomblo kronis :-) Ada beberapa majalah baru yang dah terbit seperti Anima, Animonster, Chip dan National Geographic. Bingung juga milihnya. Sebelum mutusin beli yang mana, aku keliling-keliling dulu, eh nyangkut aku ke sebuah buku. Judulnya sih murahan banget “Perang demi Uang” karangan Amy Goodman.

Amy Goodman (she) adalah seorang Jurnalis penentang perang, kiprahnya bukan hanya di Amerika tapi sudah mencapai global bahkan dia pernah beberapa kali mengalami perang dan bentrokan secara langsung di beberapa belahan dunia. Dia bekerja sebagai pembawa acara pada DemocracyNow, salah satu dari jaringan radio Pacifia, salah satu diantara sedikit sekali jaringan yang benar-benar independen.

Setelah baca-baca cover belakangnya mulailah kubaca buku itu. Kau pasti kaget pada beberapa komentar tentang Amy Goodman yang dilampirkan di situ. Lembaran-demi lembaran buku itu kubaca. Dan isinya..wuah! membuatku muak setengah mati. Buku ini membahas apa yang disembunyikan dari kita tentang politik dunia, mulai dari timor-timur, nigeria, irak dan kebanyakan amerika. Tentang bisnis dan perang dan bagaimana mereka berjalan beriringan menuju tujuan yang sama (keuntungan) dengan menghancurkan apa saja yang menghalangi, termasuk media.. Dijelaskan semua disini tentang pembohongan global, hubungan anatara berbagai pihak yang tidak saja memuakkan tapi juga tak tahu malu. Seakan-akan dunia ini terdiri dari berbagai layer kebenaran (dan tentu saja kebenaran yang hakiki terdapat pada layer yang terbawah..layer yang tidak terlihat oleh kita.

Judul asli buku ini adalah “The Exception to the Rulers: Exposing Oily Politicians, War Profiteers and the Media That Love Them” teman-teman bisa lihat di situs DemocracyNow. Aku bukannya gampang percaya dan menerima isi buku ini mentah-mentah, tapi.. coba deh teman-teman baca sendiri. Ketika ingin membeli buku ini perasaanku mungkin seperti Neo yang diberikan tawaran oleh Morpheus. Kau pilih pil yang mana? Pil merah atau pil biru? Mengetahui kebenaran atau lebih berbahagia dengan tidak mengetahuinya? Malam itu aku memilih pil merah, aku beli buku itu. Majalahnya ntar dulu deh minggu depan kalau ada duit lagi. :D
Sorry, jadi serius..


New Theme, New Look!

Blogging No Comments »

Ah, segarnya..! Ganti theme nih blognya. Sekarang lebih ringan, total load satu halaman sekitar 30 Kb (tanpa kontent loh ya). Gambar juga sekarang lebih aku batasi ah. Sudah jadi hukum alam web kalau semakin banyak gambar, berarti load-time semakin lama. Oh iya, header diatas yang kanji itu bacanya “yume” yang artinya “mimpi”, nggak berarti apa-apa sih tapi biar keren aja githu..! Mau pake kanji “ai (love)” eh dah dipake ama Garaa di jidatnya. Hihihi jadinya yume aja deh :-P


Boku Baka Blog © 2005-2008 Budiyono, Powered by Wordpress and modified GlossyBlue Theme
Ayanami Rei character and Nerv logo is courtesy of Gainax. and a huge thanks to risu-chan, for the best cookies I ever had in my life.
Entries RSS Comments RSS