Cosplay, Between Fantasy and Reality

Otaku Stuff, Thought & Opinion 41 Comments »

cosplay

Between fantasy and reality, whoa… that’s quite something isn’t it? Whoops! Don’t be discouraged by that exaggerating post title! You won’t find any heavy stuff here, not in my blog. Well, what is cosplay? For those unenlightened ones please read the wiki here. Sorry, but I won’t bother to (re)invent the wheel… *halah!* Bear with me please. :-)

This topic crossed to my mind when some crazy dude in Loenpia.net mailing list mentioned about wearing anime costume to a quiz show we’re about to attend (which due to its deadline, I personally doubt its realization.. sorry guys :-p) Wearing anime costume? That’s only means one thing, Cosplay! yay! For me, cosplay means two things :

1. Draw the line between fantasy and reality
To be honest, this is my first impression when I saw cosplayers for the first time. It’s quite common reaction for newbie like me back there. But the impression didn’t stop there, until now, sometime watching cosplayers in a convention or show really shock you up. It instantly awakes you from the land of fantasy, and here’s why…

Well, the reasons are simple. I’m sorry to inform you ladies and gentlemen, in this boring world, there no such thing as (or do exist, but extremely rare) :

  1. Cute, living, girl shaped, personal computer, named Chii, like you Saw on Chobits
  2. Ultra cute girl, red eyed, blue haired, slim enough to fit in a plugsuit, smile only once in her entire life, named Ayanami, like you saw on Evangelion.
  3. Stunningly beautiful, martial art master, named Tifa, like you saw on FF Advent Children.

And this stupid list goes infinitum..

So, what I’m about to say is, when we (normal, mere mortals) try to recreate things I listed above, the result is not quite like we expected. And whats sucks about it is : there’s nothing wrong here! It’s all because our limitation as normal human. Maybe we aren’t good-looking enough? Our body are not slim enough (yay!) or not muscular enough? Our skin are too dark or too white? Yup, this is “reality factor�; you can’t do anything to fix it. But hey, don’t get me wrong. I love cosplay (though never really done it). I admire those spirit cosplayers spread, I feel it and I love it. Salute to all of you cosplayers!
Read the rest of this entry »


Rayakan Kemerdekaan

Personal, Thought & Opinion 10 Comments »

Sebenarnya jauh hari sebelum hari perayaan kemerdekaan ini datang, sudah banyak yang aku pikirkan dan ingin kusampaikan. Mulai dari pingin desain template baru, menulis postingan yang “dalem” dll. Tapi dasarnya aku ini (sok) sibuk, jadinya ya baru diposting sekarang, itupun sudah banyak yang lupa. Desain template nuansa kemerdekaan inipun sekedar desain tabrak lari, yang diselenggarakan dengan cara tidak seksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya… Begitu juga desain 17an di blog Loenpia sebelumnya, cuma “tweak” dikit template lama. Tapi untunglah banyak yang bilang bagus (mungkin sekedar menghibur hehe..). Ah pokoknya kan turut memeriahkan (alesyan!). Oh iya, desain tulisan di banner atas itu, nyontek dari bannernya Zam, cuma jelas masih kalah keren. :-p

Turutlah Merayakan!

Merah Putih

Merdeka! Terserah si pesimis mau ngomong apa, yang jelas Indonesia sudah merdeka. Nasib bangsa ini sekarang bisa ditentukan oleh kita sendiri. Terserah pada kita apakah bangsa ini akan makin terpuruk ataukan makin bersinar. Paling tidak kebebasan itulah yang patut kita syukuri bersama. Masalah kebebasan dari kemiskinan, kebodohan dan ketakutan yang sangat belum merata memang hal yang sangat penting, namun dengan kemerdekaan ini paling tidak modal dasar kita sudah ada. Read the rest of this entry »


Mr. Persona lity Plus

Thought & Opinion 18 Comments »

who are you

Sepanjang hidup ini, setuju nggak kalau kita melalui berbagai tahap pendewasaan ataupun tahap pemikiran? Apa yang kita pikir benar beberapa tahun yang lalu ternyata kini jelas-jelas salah, apa yang kita pikir hebat saat ini mungkin akan kita anggap payah beberapa tahun kedepan. Dan kalau kita sudah pernah berpola pikir seperti pola pikir orang yang kita kenal sekarang, bagaimana menurutmu?
Aku pernah berjumpa dengan berbagai macam orang, dengan berbagai macam pemikiran dan pendapatnya masing-masing. Namun diantara sekian banyak jenis orang tersebut, the most irritating one adalah orang dengan kepribadian buatan. Orang dengan kepribadian yang dia latih sendiri, berulang-ulang, sampai mungkin ia sendiri lupa bagaimana sifat dirinya yang sebenarnya.
Aku kenal betul orang-orang seperti ini, hanya bicara sekitar 10 menit dengan mereka, sensor-ku pun sudah bisa menyatakan. “Hu-uh, this type of dude…“. Ok, aku memang nggak punya dendam pribadi dengan orang-orang seperti ini, ini hanya unek-unek jangan diambil hati…

Belum mengerti maksudku? Ok ini ciri-ciri typical mereka, khususnya di seputar kantor dan bisnis. Mereka bicara dengan bahasa yang luar bisa intelek, dengan kosakata dan istilah-istilah terbaru. Bicaranya teratur, terencana seolah-olah sedang menjelaskan teori roket, khawatir orang lain susah mengerti apa yang mereka bicarakan. Pada setiap kesempatan mereka selalu berusaha untuk menggunakan bahasa inggris tanpa alasan, padahal dia, lawan bicaranya dan tempatnya berbicara adalah murni jowo! Itu masih mending kalau bahasa inggrisnya bagus, kebanyakan malah belepotan dan terbata-bata, grammarnya salah-salah pula! dan dengan pedenya wajah mereka menggambarkan kepercayaan diri itu.. Bah!

Mereka sering tampil untuk menonjol, mengemukakan pendapat atau nimbrung pada tempat yang bukan habitatnya, mengerjakan hal yang bukan kewajibannya, mengkritik hal-hal yang sama sekali bukan keahliannya dan menyembunyikan kebodohannya dengan berbagai kata-kata dan istilah teknis yang manis. Kebanyakan pula mereka gaptek! kalau merasa terpojok soal pengetahuan ia kan segera berdalih. “Oh iya.. itu sebenarnya saya juga pernah, tapi bla bla bla (isikan istilah-istilah teknis sosial di sini)…“. Yang lebih ekstrim lagi ada yang kalau disapa “apa kabarnya?” mereka akan menjawab (atau lebih tepatnya berteriak) “luar biasa baik!“, sambil mengepalkan tangan ke atas… atau bisa bahkan juga menolak menggunakan salam selamat siang, sore atau malam. Maunya hanya selamat pagi, tak peduli itu sudah lewat jam 7 malam. Alasannya “selamat pagi” lebih menimbulkan semangat katanya. Believe me, I’ve met those people, and met one recently…

Aku tahu benar sumber pengetahuan orang-orang ini, buku buku pengembangan diri seperti Seri buku seperti Personality Plus, Seven Habbit for.., Ten Minutes… pastilah menjadi sumber inspirasi hidup mereka. Oh iya satu lagi buku tentang ESQ pasti juga menjadi salah satu kitab sucinya. Mencoba memahami lingkaran-lingkaran rumus ESC dan berpikir bahwa kepribadian dan otak manusia itu bisa dirumuskan seperti itu, dirumuskan oleh manusia pula, bah! Dan payahnya lagi mereka merasa hebat dengan begitu, merasa bahwa cuma merekalah yang tahu dan cukup pintar untuk membaca buku itu. Sepertinya tidak sadar bahwa buku itu sudah tercetak jutaan copy di dunia. Dan kalau ada orang yang tidak menerapkan rumus-rumus itu bukan berarti mereka tidak “tercerahkan”, tapi karena mereka cukup pintar untuk tidak didikte.. mending kalau didikte menulis, lah ini didikte kepribadian. bah! bah! bah!

Parahnya lagi banyak orang-orang yang masih “normal” sedang merintis jalan untuk kesana, berpendapat bahwa hal itu adalah the next level of personality. Buku-buku itu yang aku sebutkan tadi atau kekaguman buta sering menjadi awalnya.
Sebenarnya aku malah yakin bahwa justru orang-orang seperti inilah yang nantinya akan dimanfaatkan oleh mastermind yang sesungguhnya. Menjadi bisa dikendalikan. Menjadi sumberdaya yang berkualitas, tapi dengan tingkat kualitas tepat seperti yang dibutuhkan. Banyak perusahaan-perusahaan mengikutkan karyawan-karayawannya untuk mengikuti proses pembentukan kepribadian ini, dengan dalih pendidikan profesionalitas, rehat outbond dan segala macam, apapaun namanya, fungsinya sama saja ” cuci otak!”

Tanpa ada maksud ofensif kepada siapapun, sifat-sifat seperti ini menurut pendapatku dekat sekali dengan dunia MLM, Network Marketing atau apalah namanya. Dengan membaca bukunya Robert T Kiyosaki dan mendengarkan penceramah dalam sebuah pertemuan, DUAR! seperti kesambar petir. “This is it. This is my solution, this is my next world!” Dan menganggap orang lain yang tidak ikut sebagai orang yang masih dalam kegelapan yang perlu pencerahan. Coba aku tanya pada para peserta pemasar jaringan, Siapa Direktur utama di perusahan anda? General managernya? maksudnya yang benar-benar duduk menjabat di perusahan tersebut (karena tiap institusi resmi pastilah mempunyainya), bukan jabatan buatan seperti pearl maganer, crown manager atau manager-manager sebutan yang lain. Well, merekalah mastermind yang sesungguhnya. Kaya raya dan cukup anonymous.

Huh, hampir semua buku-buku itu aku baca dan toh tetap bisa menjadi diriku sendiri. Makanya aku sering bilang kalau baca buku, bacalah dari semua sisi. Kalau kau membaca buku tentang Teologi, bacalah juga buku tentang Marxisme. Kalau kau baca buku karangan Mahatma Ghandi, bacalah juga buku karangan Machiaveli. Karena sesungguhnya dunia ini tidaklah sesederhana seperti hitam putih. Ketahuilah semuanya, kemudian tentukan sendiri pilihanmu.
p.s : dalam menulis blog ini, sesekali juga aku pakai bahasa inggris, bukannya apa-apa sih, cuma karena enak saja, menulisnya mengalir.


Stand Alone Complex

Thought & Opinion 2 Comments »

stand alone complex

Bukan, ini bukan tentang Ghost in the Shell atau Masamune Shirou, tapi cuma sekedar cuap-cuap biasa tentang pernkikahan dini, ehmm sebenarnya bukan dini juga sih.. sebut aja menikah cepat. Selain teman temanku Iswi dan Ajeng, ada juga temenku satu angkatan yang juga telah menikah sekitar 5 bulan yang lalu, yang ini malah lebih ekstrem lagi “mereka belum pernah ketemuan sebelumnya!” OK, ekstrem mungkin memang bukan kata yang tepat, ini semua memang dari sudut pandangku saja, dari sudut pandang orang biasa, sesederhana itu, tapi tak ada salahnya diutarakan kan? lagi pula ini juga alasan adanya blog :)

Menikah dini (dalam hal ini tentu saja menikah yang normal ya, on purpose, terencana, bukan menikah yang terpaksa) apakah hal ini adalah hal yang berani ataukah hal yang penakut? Berani ya tentu saja, menentukan jalan hidup didalam waktu yang demikian cepat tentu membutuhkan keberanian yang besar. Berani untuk menanggung hidup bersama, berani untuk menjadi milik orang lain dan dimiliki oleh orang lain, terlebih orang lain yang hanya kita kenal dalam hitungan hari. Btw, I always wonder how it is feel to sleep legally with a stranger. hehehe… just kidding!

Takut? Mungkin juga. Terlalu takut untuk menghadapi kesendirian, takut akan masa depan? takut terkejar oleh usia? Takut melewatkan kesempatan? Takut akan orang lain disekitar kita? Takut tersaingi oleh teman atau saudara yang telah berumah tangga sebelumnya? Dan yang paling penting.. takut tidak mendapatkan sekuritas hidup dan pengakuan?

Kalau kita menanyakan sesorang mengapa mengambil keputusan yang sedemikian dramatis (at least di mata orang awam) tentu beribu jawaban dan alasan akan terucap… mulai dari alasan-alasan seperti teruliskan diatas tadi, juga alasan agama untuk menyempurnakan ibadah, mencegah hal maksiat, memperkuat keimanan sampai pada the ultimate answer : “why not?” Bahkan kalau mau, deretan ayat dan hadistpun bisa diceritakan.. persis seperti apa yang biasa tercetak pada kartu undangan. wuah !
Kalau mau jujur, kalau kita mau telanjang, melepaskan seluruh atribut kita. Kita sebagai manusia, tidak terpengaruh oleh keluarga, tidak oleh teman, tidak oleh pekerjaan, tidak oleh ambisi bahkan tidak oleh agama, kita hanya sebagai daging dan tulang yang dibalut oleh perasaan, tidak terlindung oleh apapun juga, tidak juga oleh berderet-deret dalil dan ayat agama yang biasanya selalu kita jadikan tempat sandaran untuk mengamankan dan membenarkan pendapat kita. Saat kita benar-benar kosong. “Siapkah aku menikah?”, “Diakah orang yang tepat untukku?” , “inikah saatnya bagiku?” Apa kabar dong dengan yang namanya “Cinta?”, dengan yang namanya “menggapai cita-cita setinggi langit?” dengan kisah menyelamatkan dunia dulu bersama dia?

Pemikiran juga tak jauh-jauh dari pengalaman hidup. Sudah jadi standard nasehat terutama bagi cowok, kalo mau nikah punya pekerjaan dulu or else istri-nya mau dikasih makan batu. Kalo mau nikah punya rumah dulu or else tinggal ama mertua, malu kan. Semuanya masuk akal kan? So aku akan ikut. Bermacam macam juga inspirasi datang dari hal-hal yang tak terkira. Dulu ada sahabatku yang dari Italia dia heran banget melihat dijalan raya ada satu motor yang ditumpangi oleh satu keluarga, ayah ibu dan tiga orang anak dengan variasi usia yang tidak terpaut jauh. Kok bisa-bisanya ya orang itu tidak dihentikan polisi? Tindakan itu jelas berbahaya, malah mirip sirkus. Ugh.. dulu sakit juga hati juga bangsaku dibilang begitu. Sirkus? Damn it. Eh tapi kalau dipikir-pikir bener juga ya. So aku tambahkan lagi prasyarat nikahku : “Aku harus punya mobil dulu sebelum kawin“. Terus yang konyol juga ada, dulu juga ada temenku sesama otaku yang sama seperti aku ingin melihat dunia dengan kepala sendiri, ingin pergi ke jepang dahulu, ingin melihat cewek jepang dulu hehehe… jadi kita membuat janji laki-laki : “nggak akan kawin sebelum ke jepang!” Wah banyak banget, bisa bisa bujangan seumur hidup nih…

Anyway inikan cuma pemikiran, dan pemikiran sebagaimana uniknya untaian helix DNA, bisa bermacam-macam antara manusia satu dan lainnya. Dulu aku sempat membaca ajaran Zen, ada satu kisah yang menarik. Pikiran manusia itu bagaikan cangkir teh, kita tidak akan bisa menuangkan teh kedalam cangkir tersebut sementara cangkir tersebut telah penuh terisi, teh akan meluber keluar dari cangkir teh. Pemikiran baru akan selalu ditolak dan kita akan menjadi cangkir teh yang egois, terjebak dengan kebenaran kita sendiri…

Tapi semuda-mudanya, kita kan juga sudah dewasa, kita berpikir dengan pikiran kita bukan dengan hati kita lagi. Apa yang kita lakukan berpengaruh pada diri kita sendiri. So life, here I come!


Merdeka Merah Putih

Thought & Opinion 3 Comments »

Sang Saka Dwiwarna Merah Putih

Merdeka!!! Wah sudah tanggal 19 ya, telat juga nih ngeblog soal 17 belasan. Sudah 60 tahun Indonesia merdeka. Ternyata kalau aku pikir 60 tahun itu singkat juga ya. Kalau sekilas diomongkan, sepertinya 60 tahun adalah waktu zaman dahulu kala sekali, padahal 60 tahun itu bukan apa-apa sungguh!

Aku masih ingat betul 17 agustus 10 tahun yang lalu. Waktu itu tahun emas kemerdekaan. 50 tahun indonesia merdeka. Aku masih kelas dua SMP. Wah jadi ingat Novi Kusumaningrum, Halo Nov, di mana kamu sekarang? Novi ini dulu temen sebangku-ku (paling nggak kalo ada walikelas yang memeriksa, kalau bukan walikelas, kita kadang-kadang duduknya ngumpul sesuai “komunitasnya” masing-masing. :-). Kebetulan kita berdua juga peringkat ranking 1 di kelas (sombong mode=on). Dia ranking 1.1 kalau akau ranking 1.2 Huh, kenapa aku yang kedua ya? toh jumlah nilainya sama (egois mode=on). Hobi kita juga sama waktu itu, menggambar. Kalau sedang ada pelajaran yang boring, kita pasti menggambar. Typical-nya sih aku menggambar Dragon Ball, dan dia menggambar Sailormoon! Nah ceritanya pas 17 agustusan itu ada tugas melukis tentang tahun emas kemerdekaan. Dan aku berusaha sebaik mungkin. Aku curahkan semua kemampuan dan hasrat menggambarku waktu itu, rasanya puas sekali. Waktu itu aku melukis perahu layar indonesia (dulu perlambangan tahun emas indonesia adalah perahu layar) pokoknya megah deh. Novi menggambar tentang pembangunan, ada berbagai macam objek di lukisannya, dan objek utamanya adalah seorang penari Bali. Indah sekali. Sangat bagus dan berirama. Kita saling mengapresiasi dan memuji, dan lebih mengenal masing-masing bukan lewat banyaknya kata yang terucap, namun lewat sapuan kuas… Senang sekali punya teman yang punya banyak persamaan. Nah itulah kenanganku tentang Indonesia emas. Hehehe gak ada hubungannya ya :)

Kalau 17-an tahun lalu, aku merasakan-nya di Jakarta, Dulu dalam rangka kerja praktek selama sebulan. Wah kalo ini jadi inget mbak Wisnu, mbak Lucky, Mas Amin dan kawan-kawan nih dari PT Prentis. Bagaimana kabarnya semua? Semoga sudah ada perdamaian diantara kalian semua, jadi nggak saling mengusili terus.. :) Weits, sudah setahun ternyata ya. Ampun, perasaan baru kemarin sore deh pulangnya…

Semarang rame juga tahun ini, seperti biasa da pawai kendaraan hias besar-besaran lagi. Di kesempatan seperti ini, kembali lagi terbesit rasa bangga yang tak terkira sebagai bangsa indonesia. Melihat persatuan. Mulai dari militer, murid-murid sekolah, industri rakyat, genk motor gede Harley, warga WNI keturunan sampai mas-mas tukang becak yang ikut menyumbang atraksi becak-nya. Semuanya satu kesatuan yang indah.

Di kantor-ku sendiri tak kalah meriah, lomba-lomba masih saja berlangsung sambil aku nulis blog ini. Mulai dari berbagai macam olahraga, sampai yang bertolak belakang (ada lomba Adzan kemudian lomba main gaplek!). Yang paling seru tadi lomba panjat pinang, atau lomba panjat bambu tepatnya. Ada dua buah bambu setinggi lebih dari sembilan meter di halaman kantorku. Kok ya bisa ada yang berhasil, berulang kali aku melihatnya tampaknya benar-benar mustahil dipanjat pohon itu, apalagi pelicin yang dipakai banyak sekali. Ah, semuanya bergembira lupakanlah sejenak beban hidup. Hari ini adalah harinya rakyat!

Ngomong-ngomong soal peringatan kemerdekaan, sekarang kok banyak banget ya yang merasa kita ini belum merdeka, kita ini masih terbelenggu, kita ini masih ini masih itu dan lain-lain. Malah menggelar demo segala menebar suasana duka. Wah jujur aja ya aku nggak setuju, kalian merusak kegembiraan rakyat! Bener juga sih, kita masih jauh dari bentuk negara yang “settled”. Kita masih morat marit, perlu banyak belajar. Dan seperti juga anak kecil belajarnya juga kadang-kadang disertai jatuh. Malah jatuhnya berdarah-darah. Tapi ayolah… sekarang kita tidak lagi harus berlindung kalau-kalau ada serangan udara. Kita tidak perlu lagi untuk berlindung kalau-kalau tiba-tiba perang meletus. Kita tidak perlu menunduk-nunduk untuk lewat di depan bule-bule di tanah kita sendiri. Kita tidak perlu lagi merelakan anggota keluarga untuk pergi (yang belum tentu bisa kembali). Makanya kalo ada yang bilang kita ini belum merdeka ini dan itu, cobalah lihat negeri-negeri lain yang masih berperang.. dan bersyukurlah! Aplagi kita mendapat hadiah ulang tahun yang manis, perdamaian di tanah Aceh.

Orang tua mungkin lebih bisa menghargai kemerdekaan ini. Mereka yang dulu harus makan daun krokot (tahu nggak daun ini?). Mereka yang harus makan bonggol pohon pisang dan menganggap gaplek adalah makanan mewah tentu akan lebih bisa menghargai kemerdekaan. Mereka yang merasakan penjajahanlah yang paling bisa menghargai kemerdekaan. Sampai sekarang aku masih saja terharu apabila nenek-ku bercerita tentang pertempuran di Kali Sepait di Pekalongan ~tanah asalku. Dimana laki-laki terbaik di semua desa dikumpulkan untuk berperang, -sekali lagi berperang- membunuh atau dibunuh. Dimana banyak pohon kelapa yang ditebang untuk menghalang-halangi tank-tank milik Belanda, namun tak berguna… Di mana tiap malam hari semua keluarga berdoa agar tidak ada berita dari Kali Sepait untuk “mengirimkan orang tambahan”. Dimana sekarang kadang masih bisa dijumpai tulang belualang manusia walau 60 tahun telah berlalu dan daerah itu kini menjadi ladang pertanian. Tentu mereka lebih mengerti…
Sekarang kita malah lebih banyak berisik, kita belum merdeka, kita terjajah dan bla bla bla… Kalau kau sekarang lagi enak-enak duduk santai sambil ngenet dan bilang kita belum merdeka.. wah tega nian kau! Coba kau cuma berpakaian karung goni, makan daun krokot sambil dihujani peluru! Terus bilang kalau kita belum merdeka, baru aku setuju.

Kenapa kita tidak melaksanakan peran kita saja masing-masing dengan sebaik-baiknya, dengan idealisme yang sama dengan saat kita berdemo? Kalau semua seperti itu, satu dekade kedepan pasti Indonesia sudah lebih baik. Misalkan saat ini para koruptor busuk itu rata-rata berumur 40 tahun, well nantinya mereka akan mati juga kan? Bebaslah Indonesia dari koruptor! Memang sih mereka meninggalkan jejak. Tapi siapa yang ditinggali jejak mereka itu? Kita juga kan? Kita seringkali menyalahkan para pejabat.. tapi coba tengok diri kita, apa yang sudah kita perbuat. Bedanya maling dengan “orang baik” yang tamak adalah antara yang mendapatkan kesempatan untuk berbuat dan yang tidak. Kita sudah dihadiahi negeri ini dari pendahulu kita, oleh korban darah dan air mata (wuih.. ini puitis memang, tapi serius). Mau diapakan negeri ini juga terserah kita (kita di sini maksudnya bangsa Indonesia), mari kita bangun sebaik-baiknya.

Wah-wah nggak ada ujung-nya memang kalo ngomongin tentang negara. Yang jelas kita merdeka, tapi 60 tahun itu masih anak-anak, perjalan masih jauh dan panjang. Tetap berjuang.
MERDEKA !!!


Oscar for Ghost Hunter?

Thought & Opinion 3 Comments »

boo..!!

Kemarin, sepulang kerja aku lihat rame-rame di jalan kaligarang depannya pasar swalayan kedaton. Aku sih gak peduli tapi, jalan aja terus. Malemnya aku mau ke Gramedia, lewat jalan itu lagi, masih aja rame, sekarang malah jauh lebih rame lagi banyak orang kampung sekitar situ yang nonton. Oh..rupanya ada hantu ..eh.. maksudku syuting pemburu hantunya lativi. Sorry ya, gambarnya kok malah ghostbuster, lha wis googling nggak nemu sih, jadi itu aja, lagian mirip buanget kok, jelas-jelas “trully inspired” tuh. Sedikit ngomentarin logo-nya ya. Kenapa ghostbuster banget? Kenapa childish banget? Itukan gambar setan sprei (maksudnya orang yang malsu jadi setan pakai sprei!). Kalau aku membayangkan akan membuat logo Tim Pemburu Hantu, mungkin aku akan berpikir tentang sesuatu yang mistik dan megah, tentang histogram-histogram kuno yang religius atau semacam itu. Ah.. tapi sudahlah!

Aku belum pernah nonton acara itu sih, maksudnya satu acara full, paling-paling mampir sekilas kalau acara yang aku tonton sedang iklan. Tapi karena ini di kota-ku ya akhirnya nonton juga aku malam itu (di tv), full! Dan oh..wow. Kayaknya lagi lagi aku akan mencemooh nih.. Biar aja, lha blog punyaku sendiri hehe.. Tapi aku nggak akan jadi ahli sosial yang lantas membahas pengaruh acara ini dimasyarakat, males, cukup dari sisi diriku aja.

Sebelum acara pengusiran (yang wonderfully dramatic itu) si mbaknya nerangin segala macam yang pernah nampak di sini mulai dari wanita berbaju putih (wa… sadako banget, kayaknya ini model setan global ya?), terus ada setan yang cuman kepala doang dan juga setan yang mandi dll. Setelah ini itu akhirnya pengusiran dimulai. Wa keren juga ya..maksudku segala macam akrobatiknya gitu. Aku nggak pernah menyangka kalo pengusiran setan bisa tampil se”fisik” itu. Persis seperti mengusir orang, cuman bedanya ini nggak keliatan. Setan ditarik-tarik, diseret-seret, di combo attack dan akhirnya dimasukkan ke dalam botol. Penggambaran versi para jagoan ini pun tak kalah dahsyatnya. Mulai dari setan buaya yang besar, setan raksasa (dan sempat men-smack down salah satu jagoan) dan banyak lagi sampai aku lupa.. tapi mereka nggak menyebutkan vampir dan warewolf sih. Musik dan sound effect yang mirip game survival horor serta gambar di tv yang diberi frame hitam (buat apa sih dikasih frame segala? kasihan kan yang tv-nya 14 inch!) semakin menambah serunya suasana. Ya, seru! jauh banget dari kesan batin yang mistis dan religius. Bahkan mereka sempat membentuk formasi ala tokusatsu sentai (power ranger) suer! aku nggak bohong, katanya formasi perlindungan atau apa gitu. Kenapa nggak sekalian aja ditambahkan efek jurus kamehameha? Pasti lebih fantastis!

Jujur aku nggak begitu percaya sama hal-hal ini. Mungkin karena aku emang sama sekali nggak concern? bisa jadi. Malah kalau boleh aku berpikir sedikit picik, ini mungkin malah model baru advertising dari swalayan itu. Aku belum pernah ke swalayan itu, karena emang nggak tertarik. Dan aku juga nggak pernah sama sekali mendengar berita kalau tempat itu berhantu atau bahkan merupakan kampung hantu (karena hantu yang sukses ditangkap banyak sekali)!
Waktu aku googling di forum-forum dalam negeri, komentarnya lucu lucu juga lho :
-”Harusnya mereka kerjasama dengan syrup ABC, karena yang dipake botol syrup ABC. Lumayan kan bisa iklan “Syrup ABC, udah enak, botolnya bisa buat nangkap hantu lagi!” hehehe..
-”Pake vacuum cleaner aja! pasti lebih cepet”
-”Kenapa kerasukannya selalu macan, buaya dll.. nggak pernah kerasukan burung?. Kan bisa terbang yang kerasukan itu, baru aku percaya”

Masuk akal juga ya, paling nggak itu pendapat yang jujur. Tidak memaksakan pendapat dan asumsi kepada diri sendiri. kalaupun mau dipaksakan penjelassan yang logis, jelas nggak akan ketemu, jelas sel-sel otakku menolaknya. Kata orang “seeing is believing” …nah ini lha piye, wong nggak keliatan kok! Jangan salahkan aku yah!
Komentar temenku Encup soal acara itu : “Mereka harusnya dapat Oscar!”



Boku Baka Blog © 2005-2008 Budiyono, Powered by Wordpress and modified GlossyBlue Theme
Ayanami Rei character and Nerv logo is courtesy of Gainax.
Entries RSS Comments RSS