White Collar Blues

Thought & Opinion 4 Comments »

white collar blues

Semasa manusia muda, semasa hidup ini masih indah, apabila diajukan pertanyaan “apakah yang ingin kita capai di hidup ini?” Jawaban yang muncul bisa beribu-ribu banyaknya. Melakukan hal-hal yang hebat, Meraih cita-cita setinggi mungkin, menjadi orang kaya, orang terkenal, orang penting, dan banyak lagi yang lainnya. Yang intinya kita ingin agar hidup ini berarti, kita ingin meninggalkan nama kita di dunia ini. Kita ingin berbeda dari orang lain, lebih hebat, lebih ini dan lebih itu. Pokoknya stand out of the crowd lah.

Namun apakah yang berubah ketika kita menjadi dewasa dan kemudian tua? Fisik? itu jelas. Yang lebih penting adalah bahwa pemikiran kita berubah (okelah, ada juga mengatakan “berkembang“), sedihnya dengan berubahnya pemikiran dan pemahaman kita itu, segala idealisme kita juga kebayakan juga ikut larut dalam perjalanan hidup yang gila ini. Kita menjadi lebih banyak bertoleransi pada diri sendiri, lebih mudah memaafkan diri sendiri, kita melepaskan banyak kesempatan dengan alasan kemapanan. Kita ingin menjadi bagian masyarakat, kita ingin menyatu dengan yang lain, kita butuh securitas diri, kita butuh pengakuan…

Berikut adalah contoh skenario hidup typical yang aku lihat.. Lahir di sebuah keluarga bisa, mendapat pendidikan yang baik baik di rumah maupun di sekolah. SD-SMP-SMA berusaha dengan sebaik-baiknya. Akhirnya bisa masuk perguruan tinggi. Sampai di sini idealisme masih berperan dengan gagahnya, mengalahkan segala hal yang lain. Kita masih ingin ini dan itu seperti yang aku sebutkan diatas.Namun di sini pula, sedikit demi sedikit, disadari atau tidak disadari, berpikir tidak lagi dengan idealisme yang murni, tidak lagi dengan semangat yang membara. Tapi dengan kepentingan untuk “sama dengan yang lain”, untuk pengakuan semata. Astaga “si A sudah lulus, aku harus cepat-cepat lulus ni”. “Oh, si B sudah bekerja aku harus dapat kerjaan juga nih”. “Eh si C sudah menikah, aku harus cepet-cepet cari pacar nih” Ahhh… Pekerjaan dan Keluarga, bukankah itu bekal yang dibutuhkan untuk dapat masuk ke masyarakat? mungkin.

Mengapa panik kebakaran jenggot hanya karena 3 bulan lulus belum dapat kerja? (seperti teman saya). Toh kita kuliah bertahun-tahun. Aku yakin kalau orang tua masih mampu kalau memberi makan lagi barang setahun dua tahun (sekali lagi ini contoh typical). Bukannya manja, tapi mengapa kita tidak berpikir? Waktu memang adalah sangat berharga. Berpikir lebih berharga lagi. Tak ada pemanfaatan waktu yang lebih berharga daripada berpikir menurutku. Biarlah berhenti sejenak dari putaran waktu dan berpikir, betapa teraturnya hidup kita sejak dulu, seperti gigi roda yang tak pernah berhenti berputar, sehingga ketika kita lepas sebentar saja dari sebuah jalur yang ditentukan, kita sudah hilang tak tentu arah. …Cogito ergo sum (I think therefore I am)…

Akhirnya lulus kuliah, beberapa saat kemudian apply lamaran kemana-mana. Mula-mula yang sesuai dengan bidang ilmu kalaupun nemu ya syukur, kalau tidak ya dimana-aja lah asalkan bekerja dan mendapatkan gaji yang cukup. Seperti dikejar-kejar, entah dikejar apa. Setahun pertama kita bersemangat, mencari hal-hal yang baru bahkan pekerjaan yang baru. Beberapa waktu kemudian akhirnya ada gadis/ jejaka juga yang nyantol (syukur kalau suka). Janur kuning-pun melengkung, kita punya keluarga. Kita manusia yang utuh sekarang. Namun sekali lagi waktupun terus berlari tak pedulu kita terseok-seok, tak ada lagi waktu untuk berpikir, kita harus mengejar! atau mati tergilas olehnya. Tanpa kita sadari kita telah terkungkung oleh rutinitas, oleh pengkondisian dan terlebih lagi, terkungkung oleh diri kita sendiri, kita tidak lagi kenal dengan diri kita yang dulu. Kemudian tahun berlalu, mungkin kita sudah naik jabatan. Taraf hidup kita sudah lebih baik. Sampai di sini garis hidup menjadi jelas. pindah kerjaan? gila kali! sudah capek-capek aku mencapai posisi ini. Mau melakukan ini atau itu? Ah sibuk urusan kantor! mana ada waktu. Begitu terus seiring dengan berjalannya waktu. Kulit pun mengkeriput dan rambutpun memutih. Kita merasa telah mengalami semuanya dan mengecap diri kita bijaksana. Kita semakin taat beribadah, siap-siap mati dan menerima nasib… Tentang idealisme yang dulu? …hah idealisme? Apa itu?

Kalau bisa dipersingkat mungkin begini : Aku lulus cepat, punya pekerjaan mapan, punya pasangan dan rumah sendiri (kalau sudah mampu) = aku hebat! ..and? So What? Milyaran orang dibumi ini melakukan hal sama seperti yang kau lakukan. Kau akan mati juga seperti yang lain, dan sepuluh tahun kedepan tak akan ada yang mengenalmu, bahkan tak akan ada yang tahu bahwa kau pernah ada… hanya species biasa yang melanjutkan siklus hidup dan reproduksi.. tak lebih.
White Collar Blues adalah judul chapter sebuah manga yang menceritakan dengan persis apa yang kutulis disini. Tentang orang yang tersadar dan terdiam di masa tuanya, menyadari bahwa dia mempunyai segalanya namun tidak mencapai apa-apa (see what I mean?) Senang juga aku bahwa ada yang berpikir sama denganku. Tapi terlepas dari apapun juga, inilah pemikiranku sekarang, apa adanya. Salah satu dari pemikiran sekitar enam setengah miliar penduduk bumi juga. Mungkin kelak aku juga akan seperti mereka yang aku ceritakan di depan. Mungkin aku akan kehilangan diriku yang sekarang. Kalaupun itu terjadi paling tidak blog ini adalah momento bagiku, bahwa aku di waktu ini (july 2005) berpikir seperti ini. Ahh.. masa depan memang menakutkan!
~mudah-mudahan ada yang kuat baca sampai akhir hihihi.. :) . Theme song untuk postingan ini : “Reset Me” by Hysteric Blue. I really love this song! “reset me, zero ni…!”


We Laugh at Insult?

Thought & Opinion 3 Comments »

Tadi malam nih aku nonton acara lepas malam di tipi. Jujur aja ya, sekarang-sekarang ini aku benci banget sama hampir semua acara tv, terutama yang lokal. kerana aku ngerasa nggak dapet apa-apa dari sana. Terhibur nggak, Dapat Informasi juga nggak. Tapi apa mau dikata, dulu aku pernah baca bukunya Robert T Kiyosaki (Aku baca ini karena aku suka baca buku, bukannya aku penganut “sekte” MLM tertentu loh ya) yang bilang bahwa “tv adalah sumber informasi bagi orang bodoh dan orang miskin”. Kayaknya bener juga nih. Karena sahabat terdekat kita yang selalu disamping kita saat dibutuhkan di rumah adalah tv. huh? menyebalkan, tapi mau gimana lagi. Apa mau dibuang tvnya? wo…

Eh balik lagi ya ke lepas malam. Kebetulan waktu pas aku nonton temanya tentang pelestarian lingkungan. Ada beberapa penerima penghargaan Kalpataru yang hadir.. tapi bukan itu yang menarik perhatianku tadi malam.. cuma seceplos joke saja dari artis tamu Sarah Azhari yang aku nggak ngeh! Waktu itu dia ditanya Kalo para pengusaha penjarah perusak lingkungan itu ditangkap enaknya dihukum apa? Dan seperti biasa artis-artis macem gini menjawab dengan segala kejeniusan-nya “Mungkin dihukum jadi tukang sampah aja ya suruh bersihin jalan..” Dan begitulah acara pun mengalir kembali. Mungkin terdengar biasa atau lucu kalau didengar… tapi lain halnya kalau kau ADALAH seorang tukang sampah! Apa salahku hingga keadaanku dianggap sebagai hukuman? Apa dosaku hingga para perusak lingkungan yang merugikan orang banyak harus itu dikutuk menjadi aku. Apakah aku ini semacam kutukan? Aku cuma berusaha sekuat tenagaku ini, sekuat otakku yang miskin pendidikan ini untuk menjaga perutku dan perut istri dan anak-anakku tetap terisi nasi… itu saja! Aku tidak merugikan orang lain, apalagi merusak lingkungan!

Lebih jauh lagi aku berpikir tentang lelucon-lelucon yang menjadi tren di masyarakat ini. Mengapa semuanya mencela keadaan orang lain? Apa tidak ada sumber humor yang lain? Contoh? Lihat saja para pembawa acara dan tim pencela API-nya TPI. Sesuai namanya mereka saling mencela satu sama lain. dan para penonton tertawa terbahak-bahak… aku bener-bener nggak ngerti keadaan ini. Celaan dan ejekan mereka begitu dalam dan berulang-ulang. Komeng, Omas, Ulfa, Narji dan sebagainya. Ya ampun mereka saling mencela kondisi fisik sampai habis tak bersisa, mulai dari muka, mulut, kulit, gigi, hidung, keturunan dan banyak lagi. Mungkin menurut pendapatku Komeng lebih tepat disebut sebagai “pencari dan pencela keburukan orang” daripada seorang pelawak.

Masih soal acara API itu, salah satu celaan mereka seperti ini kira-kira ” Ya pantes aja dia begitu dia ini kan lulusan SLB!” Lucu? tentu saja, penonton pada tertawa.. tapi sekali lagi lain halnya kalau kau pernah sekolah di SLB atau anak atau saudaramu yang di SLB. Tahu apa mereka tentang anak-anak SLB? Tentang perjuangan mereka untuk menjalani hidup? Tentang perjuangan keluarga mereka untuk memasukkan anak-anak terbelakang ini ke masyarakat? Bayangkan betapa sedih hati mereka ini, toh mereka tidak memilih untuk terlahir sebagai seorang tuna grahita.

Kenapa ya model lelcucon ini yang populer di masyarakat? mungkin banyak beribu alasan dan hipotesis sosial yang bisa dikemukakan. Aku bukan sosiolog atau psikolog (dan tidak pernah memerankan mereka di televisi :-)), namun aku rasa cukup orang biasa saja yang dibutuhkan untuk meyadari bahwa “something is wrong here..”Namun lepas dari ini sebenarnya banyak hal yang bisa membuat kita tertawa tanpa menghina kekurangan orang lain, untuk tertawa tanpa menyakiti. Begitu banyak hal didunia ini yang mampu menyentuh hati kita untuk tersenyum dan tertawa. Ah.


Blue pill or Red pill ?

Thought & Opinion No Comments »

Malam minggu, biasalah ke Gramed nyari-nyari manga atau bacaan untuk weekend. Nggak ada gawean, maklum jomblo kronis :-) Ada beberapa majalah baru yang dah terbit seperti Anima, Animonster, Chip dan National Geographic. Bingung juga milihnya. Sebelum mutusin beli yang mana, aku keliling-keliling dulu, eh nyangkut aku ke sebuah buku. Judulnya sih murahan banget “Perang demi Uang” karangan Amy Goodman.

Amy Goodman (she) adalah seorang Jurnalis penentang perang, kiprahnya bukan hanya di Amerika tapi sudah mencapai global bahkan dia pernah beberapa kali mengalami perang dan bentrokan secara langsung di beberapa belahan dunia. Dia bekerja sebagai pembawa acara pada DemocracyNow, salah satu dari jaringan radio Pacifia, salah satu diantara sedikit sekali jaringan yang benar-benar independen.

Setelah baca-baca cover belakangnya mulailah kubaca buku itu. Kau pasti kaget pada beberapa komentar tentang Amy Goodman yang dilampirkan di situ. Lembaran-demi lembaran buku itu kubaca. Dan isinya..wuah! membuatku muak setengah mati. Buku ini membahas apa yang disembunyikan dari kita tentang politik dunia, mulai dari timor-timur, nigeria, irak dan kebanyakan amerika. Tentang bisnis dan perang dan bagaimana mereka berjalan beriringan menuju tujuan yang sama (keuntungan) dengan menghancurkan apa saja yang menghalangi, termasuk media.. Dijelaskan semua disini tentang pembohongan global, hubungan anatara berbagai pihak yang tidak saja memuakkan tapi juga tak tahu malu. Seakan-akan dunia ini terdiri dari berbagai layer kebenaran (dan tentu saja kebenaran yang hakiki terdapat pada layer yang terbawah..layer yang tidak terlihat oleh kita.

Judul asli buku ini adalah “The Exception to the Rulers: Exposing Oily Politicians, War Profiteers and the Media That Love Them” teman-teman bisa lihat di situs DemocracyNow. Aku bukannya gampang percaya dan menerima isi buku ini mentah-mentah, tapi.. coba deh teman-teman baca sendiri. Ketika ingin membeli buku ini perasaanku mungkin seperti Neo yang diberikan tawaran oleh Morpheus. Kau pilih pil yang mana? Pil merah atau pil biru? Mengetahui kebenaran atau lebih berbahagia dengan tidak mengetahuinya? Malam itu aku memilih pil merah, aku beli buku itu. Majalahnya ntar dulu deh minggu depan kalau ada duit lagi. :D
Sorry, jadi serius..


Boku Baka Blog © 2005-2008 Budiyono, Powered by Wordpress and modified GlossyBlue Theme
Ayanami Rei character and Nerv logo is courtesy of Gainax.
Entries RSS Comments RSS